Sabtu, 11 Juni 2011

Globalisasi Pendidikan

Globalisasi bukan gejala alami tetapi terjadi karena tindakan manusia. Artinya, Ia merupakan hasil perkawinan antara kinerja kekuatan teknologi pada satu sisi dan kekuatan ekonomi pada sisi lain dalam setting hubungan internasional yang begitu menggema selama 25-30 tahun belakangan ini. Seperti banyak gejala lain, globalisasi ditandai oleh ambivalensi; yaitu tampak sebagai "berkah" di satu sisi tetapi sekaligus menjadi "musibah" di sisi lain. Tampak sebagai "kegembiraan" pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi "kepedihan" di pihak lainnya. Ciri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Di situ terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi pendidikan sekolah. Beberapa contoh watak ambivalensi globalisasi dalam pendidikan sekolah adalah;
1). Globalisasi menghadirkan pesona "kecepatan" yang akan berlawanan dengan masalah "kedangkalan pemahaman pengetahuan pada anak didik";
2).Globalisasi "menguntungkan bagi yang berpikir dan bertindak cepat" dan "celaka bagi orang yang berpikir dan bertindak lambat;
3). Globalisasi akan "memudahkan membuat hubungan dan mengatasi jarak wilayah (lokalitas) " tetapi "adanya ketidakpekaan pada akar dan ciri-ciri budaya lokal"; dan
4). Globalisasi akan "memunculkan potensi menyelesaikan masalah secara cepat pada skala global" tetapi "menjadi beban keluasan lingkup pada skala penyebab masalah".
Dilema-dilema seperti itu akan tetap menjadi ciri globalisasi kapan pun. Tugas para guru yang bergerak di lembaga pendidikan sekolah bukan meniadakan dilema, melainkan menyiapkan diri dan anak didik untuk hidup dalam tegangan-tegangan itu.
Secara popular, globalisasi berarti menyebarnya segala sesuatu sangat cepat ke seluruh dunia. Globalisasi juga berarti bahwa kerusuhan yang terjadi di suatu tempat tidak dapat disembunyikan karena secara serta-merta diketahui oleh seluruh dunia. Globalisasi juga berarti  "rap musik" yang mula-mula hanya disukai oleh anak-anak muda berkulit hitam di bagian kumuh dari kota-kota besar di Amerika Serikat, dengan sangat cepat menjadi kesukaan anak-anak muda di Jakarta dan di kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Dengan kata lain, globalisasi dipahami sebagai melokalnya hal-hal yang datang dari luar. Pandangan bahwa makan di McDonald atau di Kentucky Fried Chicken (KFC) lebih enak dan bergengsi dari pada makan di restoran padang atau di Warteg merupakan bukti dari proses lokalisasi dari kebiasaan yang datang dari Amerika Serikat ini. Sekarang sudah kelihatan pula kecenderungan untuk nonton bioskop sambil makan popcorn dan minum Coca-Cola. Ini juga suatu contoh dari proses lokalisasi terhadap kebiasaan-kebiasaan yang datang dari budaya luar tadi.
Dalam mengahadapi kenyataan seperti ini, kita menghadapi dua pilihan antara "membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi" atau "kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi". Saya kira, kita semua memilih yang terakhir ini. Jika demikian halnya maka kita harus memasuki the world systems dengan sadar dan iklas. Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis modernitas seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani modernisasi proses pendidikan. Kedua hal ini belum kita pikirkan secara baik di komunitas pendidikan di tanah air hingga saat ini.

Dalam membedah mutu pendidikan di tanah air hingga hari ini, terlihat ada tiga faktor penyebab terjadinya degradasi mutu pendidikan kita selama ini, antara lain;
Pertama, strategi pembangunan pendidikan kita selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi belajar) dan kurikulum, penyediaan sarana pendidikan, serta pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan di sekolah manapun di Indonesia ini, akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan melalui teori Education Production Function sebagaimana diperkenalkan Hanushek tidak berfungsi efektif di lembaga pendidikan sekolah di daerah manapun di Indonesia. Strategi itu ternyata hanya cocok dipraktikkan pada sektor ekonomi dan industri semata.
Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro oriented, yaitu diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Bahkan, tidak jarang apa yang diproyeksikan di tingkat pusat cenderung menyimpang dari realitas sesungguhnya di sekolah-sekolah. Dengan kata lain, kompleksitas cakupan permasalahan pendidikan di banyak sekolah seperti; kondisi lingkungan sekolah, bervariasinya kebutuhan siswa dalam belajar, bervariasinya kemampuan guru, serta berbedanya aspirasi masyarakat terhadap pendidikan, seringkali tidak terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi yang melahirkan kebijakan di tingkat makro (pusat).
Ketiga, pada tingkat sekolah sendiri persoalan yang kerap terjadi adalah lemahnya kemampuan kepala sekolah dalam membaca arus global. Tidak dapat dipungkiri, masih banyak sekali kepala sekolah di negeri ini yang tidak menguasai pengetahuan standar sebagai kepala sekolah seperti; kemampuan manajerial, penguasaan teknik kepemimpinan, menguasai teknologi informasi (komputer, internet), dan sebagainya. Kondisi ini masih terus terjadi lantaran di banyak sekolah, jabatan kepala sekolah tidak jarang dipilih melalui "sistem tunjuk" yang hanya didasarkan pada analisa faktor loyalitas, senioritas, ketokohan, dan kedekatan hubungan, dan mengesampingkan analisa kompetensi pribadi dan kemauan bersaing. Hasil yang kita saksikan adalah kerja kesehariana kepala sekolah cenderung konvensional - yaitu mengedepankan budaya kerja Asal Bapak Senang (ABS), menurut petunjuk, dan sebagainya. Kondisi yang sama kemudian ditiru para guru dari hari ke hari yang kemudian menghasilkan budaya kerja yang jauh dari kompetensi dan professional. Akibat yang kita saksikan dari budaya kerja demikian adalah mutu pendidikan kita secara nasionala terus melorot dari waktu ke waktu dan anak didik kita tidak mampu bersaing secara terbuka di era yang serba kompetitif saat ini.
Tiga hal di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan semata yang harus digarap di tingkat pusat tetapi juga harus terus memperhatikan faktor proses pendidikan itu sendiri di sekolah-sekolah. Input, merupakan hal mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan secara otomatis dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Mengingat sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan beragam dan kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. Hal ini hanya dapat dilaksanakan jika kepala sekolah di tingkat unit terkecil, memiliki sejumlah kompetensi dasar untuk bisa mengelola sekolah secara baik.

Dampak Globalisasi di bidang pendidikan
Dampak positif Globalisasi :
  1. Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
  2. Mudah melakukan komunikasi
  3. Cepat dalam bepergian ( mobilitas tinggi )
  4. Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
  5. Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
  6. Mudah memenuhi kebutuhan
  7. Dapat mempelajari kebiasaan, pola pikir dan perilaku bangsa2 yg maju sehingga mampu mendorong kita untuk lebih baik lagi dan maju seperti mereka.
  8. Adanya kemudahan untuk memperlihatkan dan memperkenakan kebudayaan negeri kita sendiri ke luar negeri
  9. Terjadinya akulturasi budaya yang mungkin bisa menciptakan kebudayaan baru yg unik.
  10. Sarana & prasaran pendidikan (alat sekolah, alat peraga, pakaian, komputer beserta perangkat lunaknya) tentu akan melimpah dan murah

Dampak Negatif Globalisasi
  1. Informasi yang tidak tersaring
  2. Perilaku konsumtif
  3. Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
  4. Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk
  5. Mudah terpengaruh oleh hal yang berbau barat
  6. Masuknya budaya asing yg lebih mudah diserap dan ditiru oleh masyarakat baik tua maupun muda, dan parahnya yg ditiru biasanya yg jelek2. Meniru perilaku yg buruk
  7. Adanya globalisasi bisa memungkinkan hilangnya suatu kebudayaan karena adanya percampuran antara kebudayaan lokal dgn kebudayaan dr luar, bisa juga karna memang tidak ada generasi penerus yg melestarikan budaya tsb.
  8. Mudah terpengaruh oleh hal yg berbau barat. Generasi muda lupa akan identitasnya sebagai bangsa Indonesia karena perilakunya banyak meniru budaya barat.
  9. Menumbuhkan sifat dan sikap individualisme, tidak adanya rasa kepedulian terhadap orang lain. Padahal bangsa indonesia dulu terkenal dgn gotong royong.
  10. Kurang atau lupa sosialisasi di negeri sendiri, banyak yg mengklaim budayanya orang lain. Terkikisnya semangat menjaga kebudayaan.
  11. Dengan murahnya harga barang kebutuhan pendidikan tentu kretifitas anak-anak indonesia akan menurun (lebih baik membeli murah dari pada membuat tapi mahal)
Manfaat Globalisasi pendidikan
·         Memperluas kesempatan studi ke luar negeri  dan jadi pembanding untuk tenaga yang tidak berkualitas yang akhirnya menjadi pagar sekaligus semangat untuk lebih serius dan berkembang.
·         Membuat  pikiran kita semakin berkembang dari zaman ke zaman.
·         Menjadikan pikiran kita bisa menyesuaikan diri dengan  perkembangan zaman yang ada.
·         Globalisasi dalam pendidikan akan merangsang pendidikan (terutama pendidikan tanah air Indonesia) untuk berpacu menghasilkan kader-kader penerus yang cerdas karena para peserta didik tidak hanya di hadapkan pada saingan setanah air tapi seluruh negara

Strategi PembeLajaran Buta Aksara

  • Proses pembelajaran dilaksanakan secara berkelompok dalam suatu lembaga pendidikan  non formal, misalnya melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB), Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPLSP) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Kerjasama juga bisa dilakukan bersama organisasi kemasyarakatan dan keagamaan seperti PKK, Muslimat NU, Aisyiyah Muhammadiyah dan organisasi sejenis lainnya.
  • Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan andragogi
  • Pembelajaran berorientasi pada masalah yang digali dari warga belajar serta pengalaman  pribadi warga belajar
  • Pembelajaran yang dilakukan memberikan kebebasan bagi warga belajar sesuai dengan minat, kebutuhan dan pengalamannya
  • Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai merupakan hasil kesepakatan yang ditetapkan dan disetujui oleh warga belajar
  • Materi membaca, menulis, dan berhitung diberikan terintegrasi dengan ketrampilan yang sesuai dengan potensi dari warga belajar tersebut tinggal sehingga proses pembelajaran dapat diikuti oleh warga belajar dengan baik. Pemberian ketrampilan ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan sekaligus ketrampilan kepada warga belajar, konsep ini diyakini sebagai unsur penting untuk hidup lebih mandiri dan berkualitas.

Sabtu, 04 Juni 2011

pentingnya kita BISA membaca

  1. Pengetahuan masyarakat mengenai berbagai hal dalam berbagai bidang kehidupan menjadi lebih luas, sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangan zaman.
  2. Kehidupan masyarakat bisa lebih terjamin dengan adanya peningkatan mutu kehidupan mereka yang diperoleh dengan adanya kemampuan membaca dan menulis sehingga dapat mempermudah mereka dalam meningkatkan standar kehidupan.
  3. Kesejahteraan masyarakat lebih terjamin dengan dimilikinya penghidupan yang layak
  4. Kesejahteraan suatu negara lebih terjamin dengan adanya peningkatan mutu kehidupan masyarakat

tinggi nyaa tingkat buta aksara....

Pendidikan adalah hal terpenting dalam pembangunan dan kemajuan suatu negara. Maju dan berkualitasnya kehidupan karena pendidikan tentunya dipengaruhi oleh hal-hal terpenting dalam pendidikan. Yaitu membaca dan menulis. Dengan kemampuan membaca dan menulis, seseorang bisa lebih maju cara berpikirnya dalam menghadapi tantangan hidup. Terutama dalam menghadapi perkembangan zaman. Kemampuan membaca dan menulis akan membuat seseorang menjdi lebih mudah dalam mencari dan mengembangkan ilmunya. Tanpa adanya kemampuan membaca dan menulis seseorang akan kesulitan dalam mengetahui, mempelajari, dan menggunakan perkembangan IPTEK.
Membaca dan menulis adalah materi pembelajaran dasar dari proses pendidikan. Walaupun kelihatannya membaca dan menulis itu ringan tetapi manfaat dan pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan manusia. Dengan adanya kemampuan membaca dan menulis mereka dapat mengetahui segala informasi mengenai segala hal, mengetahui cara-cara untuk melakukan suatu hal sesuai prosedur sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan keinginan, dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan mengetahui arah yang benar dan arah yang sesat. Banyak sekali manfaat dan pengaruh yang diperoleh dari kemampuan membaca dan menulis.
Manfaat dan pengaruh dari kemampuan membaca dan menulis saat ini masih sangat rendah dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Peran pendidikan non formal disini sangat dibutuhkan yaitu dengan pelaksanaan program pendidikan keaksaraan. Pendidikan keaksaraan adalah program pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara agar mereka dapat membaca, menulis, berhitung, berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya (PP No. 19 tahun 2005 tentang Standart Nasional Pendidikan). Tujuan utama program pendidikan Keaksaraan adalah membelajarkan warga belajar agar dapat meemanfaatkan kemampuan dasar baca, tulis, hitung (Calistung) dan kemampuan fungsionalnya sesuai dengan kondisi daerah yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari. (Program Keaksaraan, UPTD Sanggar Kegiatan Belajar atau SKB).
Pendidikan adalah hal terpenting dalam kehidupan manusia. Baik pendidikan formal, informal, dan non formal. Dalam pendidikan formal hal penting yang harus dikuasai peserta didik adalah membaca dan menulis. Kedua hal tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Karena dengan adanya kemampuan membaca dan menulis seseorang bisa mengetahui segala hal mengenai pengetahuan, pengumuman atau pemberitahuan, dan hal-hal lain yang dapat memperluas pengetahuan seseorang mengenai berbagai hal dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan semakin bertambah atau meluasnya pengetahuan seseorang dari kemampuan membaca dan menulisnya maka berpengaruh juga dalam kehidupan seseorang. Tentunya juga akan meningkatkan kesejahteraan orang tersebut. Oleh karena itu, buta huruf sangat berpengaruh sekali terhadap tingkat kesejahteraan seseorang. Karena jika seseorang tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis maka pengetahuan menganai segala hal dalam kehidupan bisa terhambat, sehingga kesejahteraan hidup masyarakat pun juga terhambat.

Senin, 30 Mei 2011

Tanpa disengaja

semua yang terjadi tanpa diserencanakan, mulai dari hal yang terkecil hingga yang terlihat nampak semua orang tau...haaa